oleh

Gerakan Literasi Saku adalah Sa (saya) Suka Buku di Serui

-Berita-14 views

Kitorangpapuanews.com – Aksi pertama yang dilakukan Saku pada 23 Agustus 2017. Saku membagikan buku kepada anak-anak di Kampung Rondepi di Pulau Ambai. Lima anak muda yang keseluruhan perempuan, berumur 23-29 tahun merintis Saku. Saku biasanya identik dengan uang. Tapi di Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen arti kata Saku adalah Sa (saya) Suka Buku. 

Berbekal visi yang sama, mendorong minat membaca hingga ke kampung, serta menekan angka buta aksara, lima anak muda yakni Nurhajrah, Febry, Nikmahtul Husna, Yanti dan Agies, nekat bergerak hingga ke pelosok kampung di Kabupaten Kepulauan Yapen dengan merogoh kocek sendiri. 

Termasuk dalam membeli atau mengumpulkan buku yang nantinya akan dibagikan kepada anak-anak atau warga di kampung. 

Aksi Saku di Serui mengajak mendongeng dan membaca buku bagi anak-anak di pelosok kampung, Kabupaten Yapen. (Dok: Saku Serui)

 “Sambil membagikan buku, kami juga mendongeng untuk adik-adik di kampung,” kata Agies yang aktif membagikan video dan foto-foto akatifitas Saku di facebook dan instagram. 

Kabupaten Kepulauan Yapen terletak di pesisir pantai, hampir 90 persen letak kampung tersebar di beberapa pulau. 

Termasuk Kampung Rondepi di Pulau Ambai harus ditempuh dengan perahu motor atau perahu tempel, dengan jarak tempuh 45 menit dari Kota Serui, ibu kota Kabupaten Kepulauan Yapen.

Kampung ini dipilih, karena banyak anak-anak yang duduk di kelasa 4 hingga 6 sekolah dasar belum lancar ataupun belum bisa membaca. Ini memang miris, tapi itulah fakta yang terjadi di sebagian besar pendidikan di tanah Papua.

Lagi-lagi, lima anak muda ini merogoh kocek sendiri untuk sewa perahu motor. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Begitu lah ungkapan yang pas menggambarkan komunitas Saku. Segalanya jadi lebih mudah karena adanya kerjasama. 

Komunitas Saku bersyukur, di Kampung Rondepi mereka disambut antusias dengan warga dan anak-anak setempat. Apalagi anak-anak tak sabar mendengar Saku akan mendongeng sambil membagikan buku. 

“Kala itu, kami diberikan ruangan di SD YPK Rondepi, sekolah dasar di kampung itu. Masih ada 30-an anak yang bertahan menunggu kedatangan kami. Syukurlah, kami dinanti,” kata Yanti mengingat kejadian itu.

Momen inilah yang digunakan sebaik mungkin oleh komunitas Saku untuk berbagi dan memberi semangat bagi anak-anak di Kampung Rondepi, untuk tetap semangat di tengah segala keterbatasan. 

“Kami pun berjanji akan datang kembali dan membawa buku-buku bacaan lebih banyak lagi. Apalagi di sekolah itu belum ada perpustakaan,” jelasnya.

Aksi perdana komunitas Saku sukses. Video dan foto-foto aktifitas Saku yang kerap diunggah Agies pun mendapatkan banyak tanggapan positif dari berbagai kalangan. 

Donatur pertama yang tergabung dan banyak menyumbangkan buku adalah Komunitas fotografer di Serui. Lambat laun, relawan Saku makin banyak mendonasikan buku bacaan dan buku pelajaran lainnya. 

“Relawan Saku bekerja pada berbagai bidang, ada yang PNS, ada yang perawat, ada buruh hingga pejabat di Serui. Relawan ini biasa berbagi dan mengikuti jejak Saku untuk mendonasikan buku kepada warga di kampung,” jelas Agies. 

Komunitas Saku pun terus bergerak menyebarkan buku ke sejumlah perkampungan di Yapen dan Saku makin dikenal dari berbagai kalangan dengan aksi berbaginya.

Banyak jalan menuju Roma, hal ini pun dialami oleh Saku untuk gerakan literasi, selama 4 tahun Saku berjalan untuk menyebarkan kebaikan lewat buku bacaan, banyak menemui jalan yang mudah.

Salah satunya Saku dipertemukan dengan berbagai kalangan dan orang hebat yang mengarahkan Saku untuk mendaftarkan komunitasnya mendapat buku gratis. 

Prosedur untuk mendapatkan buku gratis dari Kementerian Pendidikan pun diikuti Saku. Termasuk berbagai lembaga dan perorangan banyak yang memberikan buku. 

Komunitas Saku juga banyak dibantu Buku untuk Papua (BUP), sebuah komunitas literasi yang berada di Sorong, Provinsi Papua Barat. BUP termasuk komunitas besar yang peduli pendidikan dan literasi di Papua.

“Mas Dayu, founder BUP banyak membantu Saku dalam mendapatkan buku gratis yang dikirim gratis dari Kantor Pos,” jelas Agies. 

Hingga 2018, Saku telah mendistribusikan buku bacaan sebanyak 1.500 buku ke 15 sekolah yang ada di pelosok Kepulauan Yapen.  

Walau program buku gratis terhenti, termasuk pengiriman buku melalui kantor pos tidak berlaku lagi, komunitas Saku tetap semangat menggerakan literasi.

Saat ini, Saku masih berusaha untuk mendirikan sebuah taman bacaan di Kota Serui, termasuk telah berkoordinasi dengan dinas pendidikan setempat. 

Sebelum pandemi corona melanda seisi bumi, Saku masih menggerakan perpustakaan keliling dengan membuka lapak bacaan di sekitar Pantai Cina Tua yang dilakukan setiap hari Sabtu pukul 16.00 WIT. 

Namun dengan pandemi corona, kegiatan perpustakaan keliling terhenti. Saku tidak lagi membuka taman bacaan, namun hanya membagikan buku tulis kepada anak-anak yang kekurangan buku tulis.

“Kami berharap pandemi segera berakhir dan dapat kembali mendongeng dan membagikan buku bagi adik-adik di pelosok kampung,” kata Febry penuh harap.   (Agies Sitanggang) 

 

News Feed