oleh

GENERASI MUDA PAPUA PELAJARI PENDIDIKAN DINI TENTANG DEMOKRASI DAN PANCASILA

Jayapura, Kitorang Papua – Di SMPN 6 Jayapura, siswa diajarkan cara berdemokrasi melalui kegiatan konstektual atau pendekatan dengan konteks kehidupan sehari-hari mereka.

“Kegiatan dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui peningkatan pemahaman makna materi pelajaran yang dipelajari sebagai individu, angota keluarga, dan anggota masyarakat,” kata Kepala SMPN 6 Jayapura Purnama Sinaga, Sabtu, 15 Desember 2018.

Ditemui di sekolahnya Jalan Kayu Batu, Tanjung Ria, Base G, Distrik Jayapura Utara, Purnama menjelaskan dari penerapan dan pendekatan pembelajaran konstektual tersebut, siswa diajak melakukan study tour ke tengah masyarakat dan lembaga-lembaga terkait seperti Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk melihat sidang dan ke distrik untuk melihat langsung proses rapat di sana.

“Bagus juga kalau anak-anak itu dibawa untuk melihat ke lapangan, misalnya ada rapat di tingkat distrik atau sidang DPR untuk melihat secara langsung sehingga lebih konstekstual,” ujarnya.

Menurut Purnama, sebenarnya dari kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), Paskibraka, dan OSIS juga ada kegiatan rapat dengan beradu argumen dan mengeluarkan pendapat.

“Di SMPN 6 Jayapura baru sebatas kegiatan pembelajaran di kelas karena tuntutan kurikulum, kami punya kegiatan study tour ke luar sekolah, tapi belum pernah untuk masalah demokrasi, biasanya kami melakukannya ke museum,” kata perempuan tersebut.

Dalam muatan kurikulum tentang demokrasi di sekolahnya, Purnama mengaku sudah membahas lebih dalam dengan guru PKn dan melakukan beberapa kali pertemuan pada masing-masing kelas 7, 8, dan 9.

Menurutnya, pendidikan wawasan demokrasi bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi guru PKn menganggap perlu diadakan debat dan membuat lomba Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), sehingga penanaman konsep demokrasi lebih mendalam karena konsep dan materi sudah diajarkan di kelas.

Hal-hal yang diperlukan untuk mencapai sejumlah hasil yang diharapkan dalam penerapan pendekatan konstektual, kata Purnama, adalah guru yang berwawasan.

Selain itu, guru harus bisa mencari materi yang dijiwai agar bermakna bagi siswa, memiliki strategi dalam proses belajar-mengajar sehingga siswa lebih bersemangat belajar.

Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Jayapura, Bernard Fingkreuw, mengatakan pendidikan wawasan demokrasi perlu diperkuat sejak usia dini.

“Agar generasi muda tetap kokoh memperkuat demokrasi dan memiliki wawasan kebangsaan, maka perlu pendidikan yang memadai,” katanya.

Menurutnya, pendidikan demokrasi untuk mempertahankan Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Undang-Undang Dasar 1945.

“Supaya mewujudkan generasi yang berbudaya dan beretika dalam berdemokrasi untuk bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Ia menilai generasi muda di Kota Jayapura terlihat aktif dalam mengikuti setiap pendidikan demokrasi dan wawasan kebangsaan.

“Terbukti banyak siswa yang bertanya setiap kami melakukan sosialisasi ke sekolah, kami juga mengharapkan peran orangtua dan guru dalam mendidik,” katanya.

Bernard menambahkan pendidikan harus bisa berfungsi ikut membangun kapasitas bangsa sebagai manusia pembelajar, sehingga menjadi andal, percaya diri, religius, dan humanis.

Siswa Kelas VII C, Ruth Anderi, mengatakan pendidikan demokrasi sangat penting baginya sebab dengan berdemokrasi yang baik bisa menyelamatkan bangsa Indonesia.

“Di era globalisasi saat ini semua informasi harus dicermati dengan baik sehingga tidak menimbulkan keresahan yang menyebabkan tercorengnya nilai-nilai moral bangsa,” katanya. (*)

News Feed