oleh

Forum Oikumenis Papua : Tidak ada harapan bagi masa depan bangsa Papua dalam bayang-bayang separatis

-Artikel, Sosial-5.635 views

Jayapura – Forum Kerja Oikumenis Gereja-Gereja Papua mengungkapkan keprihatinan gereja pada situasi dan kondisi Papua belakangan ini. Situasi dan kondisi keamanan di Papua yang belakangan ini tidak kondusif, berimbas pada jemaat gereja.

Bertempat di Kantor Sinode Gereja Injili di Indonesia (GIDI), Senin (29/5/2017) ketua dari tiga denominasi gereja di Papua, yakni Gereja Kingmi, GIDI dan Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua (PGBP) melakukan konferensi pers berkaitan dengan “Surat Gembala” yang dikeluarkan oleh Forum Kerja Oikumenis Gereja-Gereja Papua.

“Minggu ini kami (seperti minggu, bulan dan tahun-tahun sebelumnya) jemaat-jemaat kami telah mengalami duka, kematian, kejahatan, pembacokan dan perlakuan tidak menyenangkan dari kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab yaitu KNPB dan ULMWP. Karena itu kami hari ini keluarkan “Surat Gembala”,” kata Pendeta Benny Giay.

Disampaikan oleh Pendeta Giay, bagian pertama surat gembala itu menunjukkan para pihak yang sedang berdinamika dan bermain di berbagai tingkatan sampai di Papua yang otomatis berpengaruh terhadap kehidupan jemaat-jemaat dan masyarakat di Papua.

Bagian kedua dan keempat surat tersebut memperlihatkan bagaimana kelompok-kelompok ini secara terang-terangan mempertontonkan intimidasi kepada masyarakat Papua untuk patuh dan mengikuti keinginan dari mereka. Tak segan mereka melakukan kekerasan untuk melancarkan misinya, seperti terjadi kepada saudara-saudara di Baliem, mereka dipaksa dan di intimidasi hanya untuk menunjukan sehelai kertas referendum, padahal mereka menolak namun karena dipaksa jadi mereka ketakutan.

“Ini juga kami angkat sekali lagi dalam bagian keempat, di mana kami tunjukkan wajah KNPB yang secara beringas mengintimidasi saudaranya sendiri demi kepentingan pribadi dan golongan”, ungkap Pendeta Giay.

Pendeta Dorman Wandikbo, Ketua Sinode GIDI menambahkan bagian ketiga menunjukkan bagaimana jemaat berefleksi pada kebaikan-kebaikan yang harus dijunjung tinggi oleh para jemaat.

Bagian kelima “surat gembala” menegaskan pendapat dan posisi gereja tentang OPM KNPB atau ULMWP.

“Kami memposisikan OPM, KNPB, ULMWP  sebagai pembawa bencana di Papua; yang selama ini membuat kerusuhan dan keresahan,” ungkap Pendeta Giay, Pendeta Wandikbo dan Pendeta Socratez Yoman, Ketua PGBP.

Sedangkan bagian keenam, menurut ketiga pendeta ini disampaikan untuk jemaat. Bahwa berdasarkan pengalaman dan kejadian yang kami alami beberapa hari terakhir ini, “tidak ada masa depan bagi bangsa Papua dalam bayang-bayang KNPB dan kelompoknya.

“Masyarakat Papua harus bangun dan bangkit membangun Papua, Masyarakat Papua tak peduli suku, ras dan agama, semuanya harus saling bersatu dengan buat komitment untuk prioritaskan membangun Papua,” lanjut Pendeta Yoman.

Ketiga ketua sinode ini mengajak seluruh jemaat untuk mengkubur budaya menunggu kebaikan  datang dari langit, para pendeta ini mengajak seluruh jemaat untuk tidak malas, bekerja dengan tekun, belajar dengan rajin demi membangun Papua.

“Kita harus bersama-sama dengan pihak-pihak yang dapat membangun Papua termasuk pemerintah, untuk mewujudkan Papua sejahtera”, tutup Pendeta Yoman. (Dees)

News Feed