oleh

Ekspresi perang suku Ubula menggema di festival Lembah Baliem

kitorangpapuanews — Teriakan bergema memantul dari lereng-lereng gunung yang memagari Lembah Baliem. Sekelompok orang dengan pakaian seadanya bersiap memasuki arena lapangan terbuka di Distrik Welesi.  Arena itu sengaja dipersiapkan agar suku Ubula, suku yang mendiami lembah Baliem, dapat mengekspresikan peperangan. Di Baliem, ada beberapa suku yang punya tradisi berperang seperti suku Dani, suku Lani, dan suku Yali.

Masalah sosial seperti perselingkuhan, pencurian babi, perkawinan sedarah, pencurian tanaman, selalu diselesaikan dengan peperangan. Saat berperang, pihak yang merasa dirugikan harus membawa pulang korban. Sebaliknya, pihak yang telah kehilangan anggota sukunya sebagai korban, akan menuntut balas di kemudian hari dengan mengajak perang.  Tak jarang peperangan itu terjadi pula antar kelompok di dalam satu suku. Tradisi perang antar suku itulah yang disajikan saat Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB).

Sebanyak 40 distrik (kecamatan) di Kabupaten Jayawijaya ikut ambil bagian dalam festival yang telah memasuki usia ke 30 tahun penyelenggaraan ini. Bupati Jayawijaya John Richard Banua menjelaskan pelestarian tradisi dan budaya suku Hubula dapat dilakukan dengan cara yang berbeda. Usai pembukaan, perwakilan dari masing-masing distrik memeragakan atraksi perang-perangan. Teriakan komando dilantangkan kepala suku mereka. Maka seketika arena menjadi riuh. Cerita penyebab perang diperagakan.

Pemandu dari atas panggung menjelaskan kepada ribuan penonton yang hadir. Cerita itu juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan bahasa Cina.  Maklum ratusan turis asing dari berbagai negara datang menyaksikan FBLB. Tak hanya wisman, wisatawan nusantara juga antusias dengan FBLB. Meski biaya pesawat ke Wamena tak bisa dibilang murah oleh kebanyakan orang.  Tak hanya atraksi perang-perangan, berbagai sajian juga disediakan selama FBLB berlangsung misalnya kampung festival dan kampus festival.  Pengunjung juga bisa mendatangi kampung-kampung tradisional di Jayawijaya, dan melihat secara langsung bagaimana penduduk lokal tinggal di honai (rumah tradisional) serta melihat mumi berusia ratusan tahun.

News Feed