DIMANAKAH MEREKA AKTIVIS/LSM PEMANTAU HAM??

oleh

Jayapura, Kitorang Papua – Isu-isu terkait Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua selalu ramai digaungkan oleh sejumlah LSM maupun aktivis pemantau HAM. Aparat TNI maupun Polri selalu dikambing hitamkan dan dipojokan karena dianggap bertindak represif terhadap warga Papua. Tanpa dengan dukungan data dan fakta sebenarnya, LSM maupun aktivis HAM hanya menerka dan menebar fitnah. Di sisi lain, telah terjadi pembantaian dan teror oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap masyarakat Papua, yang jelas nyata terjadi. Tetapi pemantau HAM seakan menutup mata.

Seperti yang dimuat pada media kompasiana.com, berikut merupakan data dan fakta, KKB yang telah brutal membunuh, membantai dan menebar teror di Papua. Tapi tidak pernah diungkap oleh LSM/aktivis HAM.

  1. Pada tanggal 22 Juni 2018 di Bandara Kabupaten Nduga, Kenyam, KKB menembaki pesawat sipil. Akibatnya pilot mengalami luka tembak. KKB berupaya meneror masyarakat. KKB sangat mengganggu dan menghambat kemajuan ekonomi.
  2. Pada tanggal 25 Juni 2018 di Kabupaten Nduga, Kenyam, KKB membantai masyarakat sipil yang tidak bersenjata, tiga warga dilaporkan tewas dan dua lagi mengalami luka tembak. Bahkan KKB juga menganiaya seorang anak secara membabi buta. Anak itu yatim piatu sekaligus karena dua dari tiga korban itu adalah orang tuanya, tidak sampai disitu ia mengalami luka bacok di bagian wajah akibat penganiaan yang dilakukan oleh KKB.
  3. Pada Rabu 27 Juni 2018 di Distrik Torere KKB memberondong tembakan ke rombongan kepala Distrik. Pada kejadian itu, Kepala Distrik tewas. Insiden penembakan bermula ketika kepala Distrik Torere bersama sembilan  anggota kepolisian yang dipimpin Ipda Jesayas Nusi membawa kotak berisi surat suara Pilkada dengan menggunakan perahu motor. Namun di tengah perjalanan, rombongan mereka dihadang dan ditembaki oleh gerombolan orang bersenjata. Akibatnya, tiga orang tewas di tempat.
  4. Pada Kamis 2 Agustus 2018, dua anggota Polres Puncak Jaya menjadi korban penembakan KKB, saat  keduanya  menggunakan sepeda motor sedang menuju Mapolres Puncak Jaya di Mulia.
  5. Pada Minggu 19 Agustus 2018, di Tingginambut, 2 orang personil TNI tewas setelah ditembak KKB. Kejadian ini bermula saat personil TNI sedang mendistribusikan bahan makanan untuk anak-anak. Aparat TNI tersebut tidak bersenjata karena akan membagikan makanan. Di tengah perjalanan KKB melakukan penembakan membati buta. Padahal hari itu merupakan hari yang sangat dihormati orang Papua karena umat kristiani sedang melaksanakan ibadah. Tapi KKB melakukan pembunuhan. Ini membuktikan bahwa KKB bukanlah bagian dari masyarakat Papua, yang terkenal religius dan menghormati kesakralan hari Minggu.

Sepanjang Januari sampai dengan Agustus 2018 ini saja tercatat 18 kali penembakan yang dilakukan oleh KKB di sejumlah wilayah dengan korban enam orang warga sipil meninggal dunia, sembilan orang luka tembak, tiga anggota TNI gugur,  sembilan orang luka tembak, lima anggota Polri gugur dan dua orang luka tembak.

Dari serangakaian kejadian itu, dimana LSM/aktivis pemantau HAM yang katanya peduli atas jiwa manusia. Dimana Independensi lembaga-lembaga pemantau HAM atas korban yang berjatuhan tersebut. Pernahkah lembaga-lembaga pemantau HAM itu berlaku adil terhadap para pelaku pelanggaran HAM yang dilakukan oleh kelompok KKB.

Tidakkah para pemantau HAM melihat KKB sebagai kejahatan terorganisir yang jelas-jelas merupakan tindakan makar untuk mengacaukan situasi keamanan di Papua? Atau jangan-jangan mereka adalah bagian dari kelompok itu sendiri, yaitu kumpulan orang yang memanfaatkan kekacauan Papua untuk kepentingannya sendiri?

Tanah Papua butuh rasa aman untuk menjamin kelancaran pembangunan. Kitorang papua dan semua elemen masyarakat Indonesia harus selalu bersatu padu membantu proses pembangunan di Papua. Abaikan kepentingan perorangan maupun kelompok, jangan ada lagi yang ingin mengacaukan situasi keamanan di Papua yang hanya mengakibatkan kerugian dan kesengsaraan bagi masyarakat Papua itu sendiri. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.