oleh

Di Tengah Gempuran Pandemi COVID-19, Mama Liz Tetap Semangat Berjualan

-Artikel, News-255 views

Kitorangpapuanews.com – “Masa seperti ini (masa pendemi Virus Corona) pendapatan menurun. Ini saja sampai jam 5 sore, 4 tumpuk (dagangannya) sa (saya) belum laku, padahal sa (saya) jualan dari jam 7 pagi tadi,” kata Mama Liz dengan dialek Papua, saat ditemui di Pasar Aroro Iroro, Serui, Selasa (7/4).

Walau imbas pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) kepada para pelaku usaha ekonomi begitu terasa, terlebih bagi pedagang kecil yang berada di daerah. Namun mereka tetap bersemangat berjualan mengais rejeki untuk bertahan hidup.

Seperti yang dialami salah satu pedagang sayur dan buah pinang bernama Liz Tanyuga atau biasa disapa dengan nama Mama Liz . Hari itu, dia terlihat tetap menjajakan hasil kebunnya di areal Pasar Aroro Iroro, Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua.

Mama Liz juga mengungkapkan, dirinya tetap memaklumi dengan apa yang terjadi dalam kondisi saat ini, dimana ada pandemi Virus Corona. Sebab dia mengakui, bukan hanya dirinya yang mengalami penurunan pendapatan dalam berdagang saat ini.

“Ya terima saja, kitorang (kami) kalau tra (tidak) jualan dapat dari mana beli kebutuhan sehari-hari? Ini saja katanya harus cegah diri pakai alat pelindung (masker). Jadi sa (saya) cuma punya kain serbet, tra (tidak) pakai masker macam orang-orang, sebab masker juga susah didapat,” ungkapnya.

Kebutuhan hidup tiap hari yang harus dipenuhi membuat orang seperti Mama Liz dan para pedagang kecil lainnya harus berlomba dengan waktu. Makanya, mereka berharap adanya uluran tangan pemerintah dalam bantuan bahan pokok, guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Kalau jualan habis, uangnya langsung pakai beli beras dan keperluan di rumah. Tapi gara-gara virus ini (Virus Corona), makanya jualan sepi. Apalagi pasar juga tutup lebih cepat. Jadi kalau bisa, pemerintah bantu kitorang (kami) bapok dan juga masker. Sebab di pasar ini orang-orang bilang resiko tertular tinggi,” jelasnya.

Hal yang sama dikatakan Michael, pedagang sayur lainnya. Bahkan kata Micahel, kadang dagangan sayurnya tak habis membuatnya rugi. Sebab sayur dagangannya menjadi layu dan tak bisa dijual lagi.

“Kalau sudah begitu pendapatan turun, biasa sehari bisa jual 30 ikat sayur, tapi saat ini kadang cuma 10 ikat, itu sudah paling banyak. Namun kami harus tetap jualan, sebab siapa yang mau kasih penghasilan. Kitorang (kami) harap kondisi ini cepat membaik, biar pendapatan juga normal,” ungkapnya.

 

Pemerintah daerah setempat sendiri sebelumnya sudah mengambil sejumlah kebijakan, guna meringankan beban para pedagang di pasar, yakni pembebasan retribusi pasar selama 3 bulan. Namun sepertinya hal ini belum cukup membantu. Semoga kondisi ini cepat berlalu, sehingga perekonomian warga kembali norma

 

News Feed