oleh

Deklarasi Perhimpunan Peduli Kopi Papua (PPKP), “Kopi Sebagai Resolusi Konflik Papua

Kitorangpapuanews.com —  JAYAPURA— Konflik Papua merupakan konflik yang kompleks dan berkepanjangan dari sejarah masa lalu dan berbagai ketidakadilan serta marginalisasi yang dirasakan oleh orang Papua sehingga muncul berbagai konflik sosial.

Berbagai upaya dan berbagai pendekatan telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi konflik di Papua, namun eskalasi konflik di Papua tidak kunjung surut, bahkan cenderung meningkat.

Hal ini menunjukan bahwa berbagai upaya dan pendekatan yang dilakukan belum menyentuh akar permasalahan konflik Papua.

Demikian dikatakan oleh, Inisiator Perhimpunan Peduli Kopi Papua (PPKP), Habelino Sawaki, Jumat (13/03/2020), di Cafe Horeg, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua

Habelino menegaskan, persoalan marginalisasi orang Papua hampir menjadi isu utama yang kini

sedang mengemuka. Globalisasi yang merasuki seluruh sendi kehidupan, menjadikan isu marginalisasi orang Papua laksana benang kusut dan “talingkar”.

Karena itu, identifikasi akar persoalan adalah hal yang mendasar untuk dilakukan. Sebab tanpa identifikasi akar persoalan, solusi yang tepat sulit diperoleh.

Lanjut sebut sang inisiator itu, bahkan, bisa memunculkan persoalan baru. Ada dua faktor yang menyebabkan orang Papua menjadi termarginalkan di atas tanah leluhurnya yaitu, faktor internal dan eksternal.

“Ada dua faktor yang menyebabkan orang Papua menjadi termarginalkan di atas tanah leluhurnya pertama, faktor internal (faktor yang berasal dari dalam) adalah menyangkut kesiapan SDM dari orang Papua sendiri dan hal-hal yang sifatnya karakter seperti ketekunan, keuletan, kejujuran,

kedisiplinan dan lain-lain. Dan kedua, faktor eksternal (faktor yang berasal dari luar) adalah menyangkut kebijakan pemerintah terhadap orang Papua di bidang politik,

ekonomi, sosial budaya dan lain-lain bidang hidup,” ujar Habelino Sawaki, dengan nada haru.

Ia pun berharap, sembari memberikan tantangan kepada generasi muda Papua, dimana tugas dan tanggung jawab orang muda adalah mendorong forum-forum serta diskusi-diskusi yang terbuka dan meluas untuk membahas akar persoalan marginalisasi orang Papua secara tuntas serta melalui jalan-jalan mana saja solusi yang telah didiskusikan dapat dikerjakan.

“Ruang dan forum diskus jika dilakukan secara terus menerus dan terpadu serta melibatkan stakeholder yang kompeten di bidangnya, dapat memunculkan sebuah optimisme baru yakni orang Papua dapat benar-benar menjadi “tuan di atas negerinya sendiri,” tutur Habelino.

Marginalisasi orang Papua tidak boleh dipercayakan diatas pundak individu atau kelompok yang selama ini hanya menjadikan “pembangunan orang Papua” sebagai lips service semata. Tanggung jawab ini memiliki dampak yang maha berat jika tidak dikerjakan segera, dapat menambah rumitnya persoalan. Karena itu, kita tidak boleh main-main dengan persoalan marginalisasi orang Papua.

Marginalisasi yang tidak segera ditangani dengan baik dapat menimbulkan letupan. Apapun paradigma dan idiologi yang dianut, memuliakan orang asli Papua adalah sebuah keharusan. Memuliakan orang Papua jangan direduksi menjadi pembangunan Papua semata.

Membangun Orang Papua dan membangun Papua adalah dua hal yang berbeda. Konflik Papua tidak jatuh dari langit begitu saja, tetapi lahir sebagai akibat struktur politik dan struktur ekonomi yang dirasakan tidak adil. Tidak ada jalan lain bagi pemerintah untuk menyelesaikan persoalan Papua kecuali dengan kesungguhan hati. Perdamaian memang penting, tetapi keadilan jauh lebih penting. Berapa lama konflik Papua dapat berlangsung sangat ditentukan oleh bagaimana seluruh pihak termasuk negara bersikap terhadap orang Papua.

Papua memiliki potensi penghasil kopi berkualitas yang belum dikelola secara serius. Luasan lahan Papua yang sangat luas, masyarakat Papua yang mayoritas petani serta kualitas kopi Papua yang baik, adalah potensi yang jika dikelola dengan baik dapat menjadi sarana untuk menyelesaikan permasalahan marginalisasi di Papua.

Menyelesaikan konflik Papua artinya mengatasi marginalisasi dan menguatkan orang Papua sehingga orang Papua benar-benar merasa sebagai warga negara. Di sinilah pentingnya hadirnya negara.

Persoalan Papua cukup pelik dan rumit karena melibatkan berbagai bidang hidup namun seperti kata para bijak, “mengerjakan perkara besar haruslah dimulai dengan mengerjakan perkara- perkara kecil. Karena rumitnya persoalan Papua maka pendekatan yang tepat sangat penting sehingga tidak menambah kusutnya persoalan Papua.

Sudah waktunya, dan momentum ada, maka dalam kesempatan ini, kami menawarkan sebuah metode, pendekatan bahkan gerakan baru yakni dengan menggunakan kopi Papua sebagai pintu masuk penyelesaian persoalan Papua (mikroskopik).

Melalui Kopi kita dapat berharap ada secercah optimisme untuk menuntaskan persoalan Papua. Namun mendorong pertumbuhan Papua melalui kopi dapat menjadi solusi marginalisasi jika dibarengi dengan keterlibatan Orang Papua. Keterlibatan orang Papua disini bukan hanya sebagai objek pembangunan namun sebagai subjek pembangunan.

Pelibatan orang Papua juga tidak hanya didorong sekedar untuk menunjukan bahwa, kita peduli Papua, namun sungguh-sungguh dapat menghasilkan, petani Kopi orang Papua, pengolah kopi oleh orang Papua, pedagang kopi termasuk pemilik kedai kopi adalah orang Papua” bahkan bila perlu “eksportir kopi ke internasional adalah orang Papua.

Menyadari bahwa penyelesaian konflik Papua adalah tanggungjawab pemuda maka mencoba jalan-jalan baru penyelesaian konflik adalah sebuah optimism, termasuk menggunakan kopi sebagai alat resolusi konflik Papua. Karena itu kami bersepakat untuk berhimpun di dalam sebuah organisasi yang kami sebut: Perhimpunan Peduli Kopi Papua (PPKP) yang bertujuan mendorong kopi sebagai alat resolusi konflik Papua.pungkas Habelino Sawaki, inisiator Perhimpunan Peduli Kopi Papua (PPKP).

News Feed