Dari Freeport Sampai Intimidasi Terhadap Mahasiswa Papua

oleh

Kitorangpapuanews.com, Jayapura – Menanggapi konferensi pers yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan FRI-West Papua, publik menilai banyak yang tidak sesuai dengan kenyataannya di Papua dengan apa yang disampaikan oleh Frans Nawipa (Aliansi Mahasiswa Papua) dan Surya Anta (Juru Bicara  FRI-West Papua) dalam Konferensi Persnya di Kantor LBH Jakarta, Jl. Dipenogoro No. 74, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, (14/11).

AMP dan FRI-West Papua mengklaim bahwa Freeport adalah sumber konflik yang terjadi di Timika dan Tembagapura yang dilakukan oleh TPN-OPM. Pernyataan tersebut mengundang berbagai sanggahan dan cibiran dari publik tak terkecuali beberapa tokoh Papua dan tokoh Nasional tentang hal tersebut.

Selama 50 tahun keberadaan PT Freeport di Tanah Papua, Freeport telah memberikan beberapa kontribusi yang banyak bagi pembangunan dan kesejahteraan Papua, hal tersebut diampaikan oleh Dirjen Mineral dan Batubara Kementrian ESDM, Bambang Gatot Ariyono, “Keberadaan Freeport di Papua sudah jelas lebih banyak keuntungannya daripada kerugiannya. Setidaknya ada 10 keuntungan yang didapatkan dari keberadaan Freeport,” kata Bambang, Selasa (14/11).

Beberapa keuntungan adanya Freeport antara lain, pembangunan dan kesejahteraan masyarakat (infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi). Freeport menjalin kemitraan bersama 7 suku disekitar Pertambangan PT Freeport serta sebanyak 3000 lebih Putra Daerah bekerja di Freeport.

Bupati Mimika, Eltinus Omaleng pun ikut mengomentari konferensi pers yang dilakukan oleh AMP dan FRI-West Papua, ia mengatakan bahwa tindakan TPN-OPM selama ini yang terjadi di Kabupaten Mimika dan sekitarnya merupakan tindakan kriminal dan hanya untuk kepentingan materi semata, “Tidak benar itu jika OPM memperjuangkan kedaulatan, mereka hanya ingin materi saja, mereka menginginkan uang tetapi dengan cara yang buruk, merampok, mengancam, menganiaya dan sekarang menyandera 1.300 warga saya,” tegas Eltinus.

“Dan mereka lebih pantas disebut sebagai kelompok atau gerombolan kriminal yang bersenjata, mereka bukan organisasi tapi kelompok kriminal! karena tindakan mereka selama ini mengintimidasi masyarakat, menyiksa dan melakukan tindakan kriminal hanya untuk mendapatkan materi semata,” tambah Eltinus.

Dihubungi melalui telepon, kepala Suku Dani, Kamaniel Waker membenarkan bahwa adanya tindakan tidak manusiawi dari kelompok TPN-OPM terhadap warga asli papua maupun pendatang, “Saya marah, mereka memperlakukan masyarakat tidak baik. Ada yang dirampok rumahnya, ada yang disiksa dan bahkan ada wanita pendatang dari Toraja yang diperkosa oleh mereka,” ucap Kamaniel Waker. Sedangkan AMP dan FRI-West Papua yang hidup enak di Jakarta menyangkal semua peristiwa tersebut.

Perihal isu intimidasi terhadap mahasiswa Papua yang berada di luar Papua oleh aparat, yang juga dilontarkan oleh AMP dan FRI-West Papua, hal tersebut di sanggah oleh Irjen Pol Setyo Wasisto, ia menjelaskan bahwa selama ini aksi-aksi mahasiswa Papua di daerah-daerah seringkali berakhir ricuh dan memiliki konten yang melanggar UUD, seperti isi dari orasinya adalah memprovokasi masyarakat sekitar untuk mendukung Papua keluar dari kedaulatan NKRI.

“Kita bubarkan aksinya karena melanggar ketentuan-ketentuan mengemukakan pendapat, bukan intimidasi namanya tetapi mengamankan, daripada terjadi hal-hal yang buruk ditengah-tengah masyarakat, maka aparat bertindak preventif,” Kata Irjen Pol Setyo. (**)

4.487 thoughts on “Dari Freeport Sampai Intimidasi Terhadap Mahasiswa Papua