oleh

Belajar makna hidup dari sang Maestro Frans Kaisiepo ( 1921-1979)

Pahlawan dari Papua Frans Kaisiepo (Foto : Dok. Sejarah)

Pendudukan bala tentara Jepang di sebagian besar kepulauan Indonesia menyebabkan pemerintahan Belanda di New Guinea kekurangan personel yang terlatih dalam bidang pemerintahan. Untuk memenuhi kekurangan itu maka pada tahun 1944 Residen J.P van Eechoud mendirikan sebuah Sekolah Polisi dan sebuah Sekolah Pamong Praja (bestuurschool) di Hollandia ( sekarang Jayapura). Eechoud sering dijuluki van der Papoea’s (Bapak orang Papua). Sekolah itu telah mendidik 400 orang antara tahun 1944-1949. Dari sekolah itu muncul kaum terpelajar Irian yang terlibat dalam perjuangan.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 ikut mempengaruhi para pemuda terpelajar antara lain Silas Papare, Albert Karubuy dan Marthen Indy. Pada tahun 1946 di Serui, Silas papare dan sejumlah pengikutnya mendirikan organisasi politik pro-Indonesia yang bernama Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII).

Pada tanggal 17 Agustus 1947 dilakukan Upacara pengibaran bendera Merah Putih yang dipimpin Silas Papare dan diikuti oleh Johans Ariks, Albert Karubuy, Lodewijk, Barent Mandatjan, Samuel Damianus Kawab dan Joseph Djohari. Upacara itu untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Akibat dari tindakan itu seluruh peserta Upacara harus meringkuk dalam tahanan polisi Belanda lebih dari tiga bulan. Dua Nasionalis Papua lainnya yaitu Frans kaisiepo dan Johans Ariks mengikuti jejak Silas Papare. Johan Ariks kemudian hari mengetahui ada usaha untuk mengintegrasikan wilayah Irian barat ke dalam wilayah RI dan bukan membantu Irian Barat.

Menentang Penjajahan Belanda.

Tahun 1945 Frans Kaisiepo berkenalan dengan Sugoro Atmoprasojo ketika mengikuti Kursus Kilat Pamong Praja di Kota Nica Holandia ( Kampung Harapan Jayapura). Dari perkenalan itu ia dan kawan-kawannya mulai tumbuh rasa kebangsaan Indonesia. Frans Kaisiepo tidak setuju dengan papan nama kursus/sekolah yang diikutinya itu yang bertuliskan PAPUA BESTUUR SCHOOL. Ia memerintahkan kepada Markus Kaisiepo, saudaranya untuk menggantikan papan nama Papua Bestuurschool (Sekolah/”Kursus Kilat” Pamong Praja Papua) menjadi Irian bestuurschool.

Ide kemerdekaan Indonesia berkembang dikalangan para siswa yang berasal dari berbagai daerah/suku. Untuk itu para pengikut kursus itu sering mengadakan rapat secara sembunyi-sembunyi yang pada intinya menentang pendudukan Belanda dan ingin bersatu dengan RI. Mereka kemudian membentuk dewan perwakilan di bawah pimpinan Sugoro Admoprasojo dengan anggota, antara lain Frans Kaisiepo, Marthen Indey, dan Silas Papare, G Saweri, SD Kawab dan teman lainnya.

Pada tanggal 14 Agustus 1945 di kampung Harapan Jayapura telah dikumandangkan lagu Indonesia raya oleh Frans Kaisiepo, Marcus Kaisiepo, Nocolas Youwe dan Kawan-kawan.

Pada tanggal 31 Agustus 1945 mereka melakukan upacara pengibaran bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dihadiri oleh para tokoh Komite Indonesia Merdeka seperti : Frans Kaisiepo, Marcus kaisiepo, Corinus Krey dan M. Youwe.

Pada tanggal 10 Juli 1946 di Biak didirikan Partai Indonesia Merdeka (PIM) dengan ketuanya Lukas Rumkoren. Salah seorang pencetusnyanya adalah Frans Kaisiepo yang waktu itu menjadi kepala Distrik di Warsa, Biak Utara.

Pada bulan Juli 1946 menjadi anggota delegasi pada konferensi Malino di Sulawesi selatan yang dipelopori oleh Dr HJ Van Mook. Dialah putra asli Irian jaya yang dalam konferensi Malino. Sebagai pembicara ia mengusulkan supaya nama Papua diganti dengan Irian yang diberi pengertian Ikut Republik Indonesia Anti Nederlands. Konon kata IRIAN diambil dari bahasa Biak yang berarti panas dalam hal ini berarti daerah panas. Frans Kaisiepo termasuk anggota delegasi yang menentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) sebab NIT tanpa Irian Jaya. Sehubungan hal itu ia mengusulkan IRIAN Jaya masuk karisidenan Sulawesi Utara.

Pada bulan Maret 1948 terjadi pemberontakan rakyat Biak melawan pemerintah kolonial Belanda salah satu pencetus pemberontakan itu adalah Frans Kaisiepo.

Pada tahun 1949 Ia menolak ditunjuk sebagai Ketua Delegasi Nederlands Nieuw Guinea ke Konferensi Meja Bundar (KMB) di negeri Belanda, sebab tidak mau didikte dalam berbicara yaitu sesuai keinginan Belanda. Akibatnya Frans Kaisiepo dipenjarakan dari tahun 1954 – 1961.

Pada tahun 1961, Frans Kaisiepo mendirikan Partai Politik Irian yang menuntut penyatuan kembali Nederlands Nieuw Guinea ke dalam kekuasaan Republik Indonesia. Untuk menghadapi usaha dekolonisasi dari Pemerintah Belanda, Presiden Soekarno mencetuskan Trikora (Tri, Komando Rakyat) pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta. Isi komando itu adalah (a) menggagalkan pembetukan ”Negara Papua” buatan kolonial Belanda; (b) mengibarkan bendera merah putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia; dan (c) persiapan mobilisasi umum untuk mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa. Banyak sukarelawan dikirim untuk membantu para pejuang Irian. Frans Kaisiepo banyak melindungi para pejuang Indonesia yang menyusup secara diam-diam ke Irian Barat.

Dengan aksi Trikora itu, pemerintah Belanda terpaksa menandatangani perjanjian yang terkenal sebagai Perjanjian New York pada tanggal 15 Agustus 1962. Penyerahan penyelenggaraan administrasi pemerintah kepada UNTEA dilakukan pada tanggal 1 Mei 1962. Penyerahan wilayah Irian Barat kepada Indonesia dilakukan PBB (UNTEA) pada tanggal 1 Mei 1963. Paling lambat pada akhir tahun 1969 harus dilakukan pemilihan bebas untuk menentukan nasib Irian Barat oleh orang Papua sendiri apakah mereka akan bergabung dengan Indonesia atau berdiri sendiri. Indonesia berkewajiban untuk membangun wilayah itu dalam kurun waktu 1963 – 1969.

Memenangkan Pepera.

Sebagai Gubernur Irian Jaya pertama adalah Elisier Jan Bonay yang menjabat kurang dari satu tahun (1963 – 1964). Bonay semula sangat memihak terhadap Indonesia. Namun, pada tahun 1964 ia mendesak agar segera dilakukan Act of free choise di Irian Jaya bagi kemerdekaan Irian Barat sendiri dan desakan itu disampaikan kepada PBB. Karena tindakan itu Bonay diberhentikan sebagai gubernur.

Pada tahun 1964 ia diganti oleh Frans Kaisiepo. Pemberhentian tanpa posisi pengganti dalam jajaran pemerintahan menyebabkan Bonay kecewa dan melakukan hubungan rahasia dengan tokoh-tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM) di luar negeri. Pada tahun 1970 ia meninggalkan tanah leluhurnya dan menjadi tokoh OPM serta bermukim di negeri Belanda.

Frans Kaisiepo sebagai gubernur yang juga sebagai salah seorang penggerak musyawarah Besar Irian Barat berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan Pepera karena hal itu memang sejalan dengan cita-citanya semula. Akhirnya, Pepera berhasil dimenangkan yang berarti Irian Jaya bersatu ke dalam wilayah Republik Indonesia pada tahun 1969.

Pada tahun 1972 Frans Kaisiepo diangkat menjadi anggota MPR dan antara tahun 1973 – 1979 diangkat menjadi DPA RI. Pada tanggal 10 April 1979 Frans Kaisiepo meninggal dunia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Biak. Atas jasa-jasanya itu, Frans Kaisiepo dianugerahi penghargaan Trikora dan penghargaan Pepera oleh pemerintah RI. Pada tahun 1984 namanya pun diabadikan untuk nama Bandara Biak .

Pada tahun 1993 Frans Kaisiepo dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 077/TK/Tahun1993 tanggal 14 September 1993.

Nilai Kepahlawanan.

Dalam diri Frans Kaisiepo dapat dilihat pribadi yang mempertahankan dengan teguh persatuan bangsa. Bersatu pastilah lebih baik daripada tercerai berai. Seperti ungkapan yang menyatakan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. (DS)

News Feed