BANYAK WARGA PENDATANG, WARGA PORT NUMBAY SIAPKAN DIRI

oleh

Jayapura, Kitorang Papua – Pada kesempatan di awal tahun 2019 ini, Yayasan Anak Dusun Papua (YADUPA) dan Generasi Muda Papua untuk Hak Adat (GEMPHA) memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Dampak Migrasi Terhadap Depopulasi dan Pergeseran Budaya Masyarakat Adat Port Numbay”, yang dipresentasikan di Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Sabtu, 16 Feberuari 2019.

Hasilnya adalah total penduduk asli Papua di Kota Jayapura lebih kecil dibanding penduduk dari luar Papua. Penduduk asli Port Numbay bahkan lebih minoritas. Pada 2018, dari total 293.690 jiwa penduduk kota Jayapura, hanya 11.949 jiwa atau 4,07 persen penduduk asli Port Numbay.

Akibat dari ledakan penduduk dari luar Papua ini mengakibatkan pada meningkatnya kebutuhan lahan untuk pemukiman. Selain demografi, hal ini juga berpengaruh pada kebudayaan masyarakat asli Papua. Dengan ledakan penduduk yang datang dari luar Papua juga berdampak pada ekosistem laut di Jayapura.

Weynand Watori, Ketua I Dewan Adat Papua (DAP) menyatakan bahwa kondisi ini adalah bukti nyata dari kegagalasan otonomi khusus (otsus) Papua.

“Kita bicara pembangunan di kota Jayapura, hotel berbintang, mobil banyak, tapi kalau masyarakat adat seperti yang digambarkan, ya, itu artinya pembangunan gagal. Apa artinya pembangunan ini?” ujar Watori.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Port Numbay kehilangan kesempatan, untuk mengakses program pendidikan, karena kesempatan-kesempatan itu didominasi oleh penduduk dari luar Papua.

Pendapat lain disampaikan oleh Direktur YADUPA, Leo Imbiri. Menurut Imbiri, kondisi di Kota Jayapura ini adalah gambaran kondisi-kondisi wilayah di Papua, seperti Merauke, Keerom, Sorong, dan Timika.

“Kondisi ini membuktikan dengan konkret bahwa perkiraan yang sudah disampaikan oleh para peneliti telah terbukti dan kepunahan kita sedang berlangsung,” ujar Imbiri.

Hal tersebut jangan terlalu berlebihan ditanggapi. Faktanya, masyarakat Papua sendirilah yang harus berusaha dan mandiri. Kitorang Papua mampu bersaing dengan mereka yang datang dari luar Papua. Inilah seharusnya yang menjadi diskusi ilmiah generasi milenial Papua. Bukan menghadapi keterbukaan dengan pesimistis. Kitorang yakin rakyat Papua mampu hadapi ini. Hidup dengan menjungjung adat Papua. Kitorang tetap akan lestarikan. (*)