APARAT BERHASIL BONGKAR KEKUATAN SENJATA API PUROM WENDA

oleh

Jayapura, Kitorang Papua – Aktifitas kelompok Purom Wenda yang terus menebar teror tidak terlepas dari adanya senjata api yang mereka miliki. Padahal seyogyanya masyarakat sipil tidak boleh memiliki senjata api. Dengan senjata api tersebut Purom Wenda terus menebar teror dan membuat resah masyarakat. Karenanya aparat terus memburu Purom Wenda dan terus menelusuri senjata api yang mereka gunakan demi keamanan dan keselamatan masyarakat.

Pada Selasa kemarin akhirnya senjata api yang selama ini digunakan kelompok Purom Wenda dapat diidentifikasi. Hampir dari keseluruhan senjata yang digunakan oleh kelompok Purom Wenda adalah milik TNI dan Polri yang dirampas secara paksa, di mana mulai dari jenis Arsenal, Minimini, AKM dan senapan serbu.

Kapolda Papua, Irjen Pol Martuani Sormin Siregar mengungkapkan, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Lanny Jaya berjumlah 40-60 orang, yang sebagiannya memiliki senjata api organik, yang mereka rampas dari tangan TNI dan Polri.

“Jadi, mereka memiliki senjata senapan otomatis, Minimi, Arsenal, AKM dan senapan serbu, yang dirampas dari tangan anak buah kami, yang mereka aniaya dan bunuh,” ungkap Martuani, kepada wartawan, usai pertemuannya dengan insan pers di Kota Jayapura, Selasa kemarin (13/11).

Dia mengatakan, ada dua unit senapan mesin yang di rampas dari anggota Brimob saat bertugas di Kabupaten Puncak Jaya beberapa tahun silam. Sedangkan senjata lain yang mereka miliki seperti senapan serbu dirampas dari Polsek Pirime, Kabupaten Lanny Jaya dan Polsek Sinak, Kabupaten Puncak.

“Yang menarik dari hasil penggerebekan kita baru-baru ini, ada satu rantai amunisi senjata otomatis berjumlah 98 butir. Kemungkinan amunisi itu tertinggal saat kita melakukan operasi penegakan hukum di sana. Kita yakini mereka masih memiliki 60 butir. Karena hasil analisa kita mereka memiliki dua rantai,” ujar dia.

Menurut Mantan Kapolda Papua Barat ini, senjata jenis Arsenal memiliki jarak tembak mencapai 800 meter, yang dilengkapi dengan jenis amunisi kaliber besar.

“Jadi, saat ini kita tengah berupaya mengambil kembali senjata ini dari tangan mereka, agar mereka tak lagi melakukan gangguan terhadap masyarakat,” ujar dia.

 Ia juga menceritakan markas KKB yang berada di Balingga berada tak jauh dari wilayah perkampungan masyarakat. Akan tetapi, perlu strategi dan fisik yang kuat untuk masuk, lantaran wilayahnya harus mendaki tiga bukit yang terjal. “Ya, kalau teman-teman bilang letak markas mereka tak jauh dari Balingga. Tapi, butuh waktu satu hari untuk mendaki satu bukit. Apabila menggunakan helikopter tentu sangat tak mungkinankan bisa dilakukan. Karena tingginya bukit, tak kemungkinan kita bisa menggunakan heli,” ujar dia.

Dia mengatakan, pasca-seorang tukang ojek meninggal dua pekan lalu dengan luka tembak yang diduga dilakukan oleh KKB dan juga penembakan tukang ojek kemarin, (baca: PUROM WENDA TEBAR TEROR LAGI, TUKANG OJEK DITEMBAK) pihaknya berupaya melakukan penegakan hukum, agar pelakunya bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Diketahui, pasca-penembakan terhadap tukang ojek, Martuani memimpin langsung penegakan hukum terhadap KKB di Kabupaten Lanny Jaya. Dari hasil kontak tembak aparat dengan kelompok KKB, sebanyak tiga orang dari kelompok ini tewas. Saat ini, upaya penegakan hukum di sana terus dilakukan, guna memberikan rasa aman terhadap masyarakat di sana. (*)