oleh

Anggota MRP perwakilan Gogiyai menyesalkan tindakan anarkis warga Dogoyai kepada sopir truk

-Artikel-189 views

kitorangpapuanews.com —  Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP)) Perwakilan Kabupaten Dogiyai Yuliten Anouw menyesalkan sikap sejumlah anggota polisi yang dianggap melakukan pembiaran, sehingga aksi pengeroyokan yang menewaskan seorang sopir truck bernama Yus Yunus (26) itu bisa terjadi. “Ada satu hal yang saya kesal, bagi saya soal kejadian yang videonya sudah viral itu, ini semua orang sudah tahu. Masak polisi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, tapi akhirnya masak polisi tinggal nonton saja,” ujar Yuliten Anouw saat dikonfirmasi wartawan media online ini usai penutupan kegiatan Joint Session Meeting (JSM) MRP dan MRPB, di Suni Garden Lake Hotel and Resort, Hawaii, Kota Sentani, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Jumat (28/2/2020) malam.

Lanjut pria yang juga Wakil Ketua Dewan Kehormatan (DK) MRP itu selain menyayangkan sikap anggota kepolisian, juga secara pribadi mengaku prihatin terhadap kasus pengeroyokan yang menewaskan sopir truck itu. “Jadi saya sangat sesalkan tindakan polisi, kalau harapan saya ketika usai melihat video korban yang di amuk massa, disitu kan ada petugas, bila perlu senjata yang dipegang oleh polisi itu kenapa tidak buang atau keluarkan (tembakan) peringatan, pasti masyarakat bubar dan pastinya bisa selamat sopir truck nya,” tegas Yuliten Anouw.

”Karena polisi tidak buang atau keluarkan (tembakan) peringatan, akhirnya masyarakat kerumunan sopir dan langsung bunuh sopir truck di depan mata polisi. Sekali lagi saya kesal dengan tindakan polisi,” sambungnya. Yuliten juga berkomentar siapapun pasti kesal setelah melihat video sopir truck yang dikeroyok di depan polisi hingga tewas.

“Dengan adanya masyarakat yang bertindak di luar batas itu juga bisa dibenarkan, karena masyarakat yang datang di lokasi kejadian itu sebagai pihak keluarga yang merasa mereka dirugikan, kenapa keluarganya (pengendara motor) bisa ditabrak dan pasti yang datang ke lokasi itu dalam emosi yang tinggi. Yang sekarang kendalikan hal ini adalah pihak aparat kepolisian, kok masak sopir bisa dibunuh di hadapan polisi,” akunya.

”Saya sangat sesalkan dengan tindakan polisi, yang lakukan pembiaran hingga sopir truck menjadi korban amukan massa di depan polisi. Padahal polisi seharusnya yang menyelamatkan sopir truck tersebut. Harus ada langkah-langkah yang ditempuh oleh aparat kepolisian dan kalau dilihat dalam video masyarakat yang datang itu, ada yang bilang datang dalam jumlah yang banyak, tipu saja itu hanya beberapa orang saja yang bisa diatasi sama polisi, jadi saya kesal dengan hal itu. Saya juga yang tidak bisa tahan rasa sedih, sehingga saya tidak nonton video itu sampai selesai,” tambahnya.

Menurut Yuliten Anouw, korban dianiaya atau dikeroyok karena dituduh menabrak seorang warga setempat pengendara motor yang menyebabkan meninggal dunia, namun faktanya tidak seperti itu. “Kronologis yang sempat disampaikan warga kepada saya, itu pas arah berlawanan kemudian yang duluan tabrak babi itu pak Demianus Motte (pengendara motor). Lalu jarak antara pengendara motor dengan mobil truk itu tidak terlalu jauh, jadi sementara pak Motte jatuh itu datang truck dari arah berlawanan yang jaraknya tidak begitu jauh. Begitu pak Motte tabrak babi langsung keluar jalur sebelah kanan, sehingga badannya Motte sempat mengenai bodi depan truk yang memang jaraknya tidak begitu jauh dan truck langsung tergelincir ke arah samping kiri,” bebernya.

“Akhirnya begitu masyarakat setempat tiba, langsung berpikir bahwa yang tabrak pak Motte ini adalah sopir truck. Saat itu saksinya tidak ada, hanya bekas tanda ban truck yang selip dan motor saja yang ada, yang jaraknya tidak begitu jauh. Sebenarnya sopir truck ini sempat menghindari pengendara motor, namun karena jaraknya tidak begitu jauh sehingga sedikit badannya pak Motte mengenai ban depan atau bodi depan trcuk tersebut,” sambungnya.

Terkait adanya pembiaran yang dilakukan anggota polisi saat pengeroyokan tersebut, Yuliten Anouw meminta anggota polisi yang tidak melindungi korban sehingga dikeroyok hingga tewas itu harus dipecat. “Pihak-pihak polisi yang saat itu ada di lokasi TKP, bila perlu petinggi Kepolisian setempat, bahwa mereka-mereka ini tidak layak mengamankan masyarakat. Dengan demikian, saya minta harus dipecat orang-orang itu karena tidak layak dan mampu mengamankan masyarakat. Semua orang kesal dengan pihak keamanan punya tindakan pembiaran. Seharusnya itu bisa diatasi dan mereka (polisi) bisa melindungi korban agar korban tidak meninggal, karena sudah dalam pengawasan mereka. Namun karena pembiaran sehingga korban menjadi korban didepan polisi,” akunya.

“Harapan saya, kalau soal pihak kepolisian yang sudah bertugas diatas itu semua harus dipecat. Termasuk Kapolsek Monemani, karena tidak mampu atasi masalah dan lokasi kejadian itu merupakan wilayah kerjanya,” tegas Yuliten menambahkan. Untuk itu, Yuliten Anouw mengimbau kepada setiap masyarakat agar dapat menahan diri dan tidak kembali melakukan provokasi.

“Artinya, untuk penyelesaian kasus penganiayaan terhadap korban Yus Yunus dan pengendara motor Demianus Motte itu kita kembalikan kepada pihak penegak hukum. Apalagi bapa Kapolda telah memerintahkan jajarannya untuk menurunkan tim, guna melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kasus tersebut. Jadi biarkanlah kewenangannya dikembalikan kepada pihak kepolisian untuk menyelesaikan masalah ini,” tandas Yuliten Anouw. Untuk diketahui, korban Yus Yunus telah dipulangkan ke kampung halamannya, dan telah dikebumikan di Pemakaman Islam Desa Sugihwaras, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada Senin (24/2/2020) malam lalu.

News Feed