ANAK PAPUA YANG STUDY DI LUAR NEGERI HARUS KEMBALI MEMBANGUN PAPUA

oleh

Jayapura, Kitorang Papua – Samuel Tabuni, Direktur Papua Language Institut (PLI), mengungkapkan bahwa anak muda OAP (Orang Asli Papua) yang dikirim studi ke luar negeri harus dipersiapkan dengan tujuan yang jelas.

“Bukan hanya sekedar dikirim agar mendapatkan gelar” ujarnya.

Anak-anak yang akan dikirim ke luar negeri harus dipersiapkan dengan matang. Proses tersebut dilakukan melalui Program Persiapan Berangkat (Prapra).

Ia mengatakan sebelum anak-anak yang hendak kuliah di luar negeri dikirim, mereka diberi pemahaman terkait persoalan yang ada di Papua agar mereka benar-benar memahami persoalan yang terjadi di Tanah Papua.

Anak-anak yang dikirim, katanya, juga perlu dipantau dan dikontrol, baik progresnya, nilainya, komunikasi dengan dosen, tempat tinggal, dan makan mereka di sana.

Sagu Foundation yang ia dirikan, kata Sam, bertujuan mendidik generasi muda hingga menyekolahkan mereka ke luar negeri.

“Yang kami lakukan di sini hampir 140 orang direkrut ke Rusia, tahapannya sama, yaitu mempersiapan anak-anak yang sudah selesai dari sana,” katanya.

Kemudian semua aktivitas mahasiswa yang dikirim ke luar negeri dipantau sehingga dana yang dikeluarkan ada manfaatnya.

Jadi, katanya, diharapkan setiap anak yang dikirim kuliah setiap tahun dengan beasiswa bisa kembali ke Papua untuk menciptakan lapangan pekerjaan di Papua.

Hal tersebut senada dengan penyampaian oleh anggota Komisi V DPRP, Natan Pahabol, yang membidangi pendidikan dan sosial kemasyarakatan, mengatakan sejak beberapa tahun ini Pemerintah Provinsi Papua mengirim banyak anak-anak Papua untuk studi ke berbagai negara.

Menurut Pahabol, mengirimkan anak-anak studi ke luar negeri membutuhkan biaya yang sangat besar, seorang mahasiswa bisa menghabiskan miliaran. Oleh karenanya ia berharap anak-anak itu kembali ke Papua, kemudian membangun Papua menjadi lebih baik lagi. Karena mereka adalah generasi emas bangsa Indonesia yang kelak menjadi pemimpin bangsa dan negara Indonesia. (*)