oleh

AMP dan FRI-West Papua Terpojok Ketika Para Tokoh Angkat Bicara

-Artikel, Kriminal-2.956 views

Kitorangpapuanews.com, Jayapura – Pernyataan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan FRI-West Papua dalam sebuah konferensi pers, dinilai publik banyak yang tidak sesuai dengan kenyataannya di Papua dengan apa yang disampaikan oleh Frans Nawipa (Aliansi Mahasiswa Papua) dan Surya Anta (Juru Bicara  FRI-West Papua) dalam Konferensi Persnya di Kantor LBH Jakarta, Jl. Dipenogoro No. 74, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, (14/11).

Mantan Tokoh TPN-OPM, Herman A.T. Yoku, menegaskan bahwa dari terbentuknya TPN-OPM sampai sekarang tuntutannya adalah tentang kesejahteraan, “Mereka membawa isu perjuangan kedaulatan hanya sebagai kedok saja, agar pemerintah mau memberikan kesejahteraan lebih tanpa mereka berusaha,” ucap Herman.

Ia juga menyampaikan bahwa pola pikir yang diterapkan oleh TPN-OPM adalah tidak baik, mereka menginginkan hidup enak dengan cara yang instan yaitu dengan melakukan aksi-aksi gangguan keamanan. “Papua tidak akan siap memiliki kedaulatan sendiri, Papua akan selalu membutuhkan Indonesia,” tegasnya.

Senada dengan pernyataan Herman AT Yoku, tokoh Papua lainnya seperti George Awi pun angkat bicara tentang keabsahan sejarah kembalinya Papua kepangkuan NKRI yang ditandai dengan peristiwa Pepera tahun 1969, bahwa Papua adalah bagian dari Negara Republik Indonesia yang sah secara de facto dan de jure.

“Orang tua-tua sebelum kita sudah tau betul yang terbaik bagi Papua, jika peristiwa Pepera tidak terjadi tidak mungkin Papua akan maju seperti sekarang, saat ini tinggal kita sebagai orang Papua memiliki kemauan yang kuat untuk bersaing secara sehat, tinggalkan budaya-budaya bisa mendapatkan kesejahteraan dengan cara instan, semua butuh usaha,” kata George Awi.

Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal mengatakan bahwa Papua seperti saat ini karena kontibusi dari Pemerintah Pusat dan Investor Asing, sehingga pernyataan AMP dan FRI-West Papua sangat tidak masuk akal. “Jika perusahaan investor asing dan aset Pemerintah Pusat harus keluar dari Papua, lalu masyarakat Papua mau buat apa??,” tuturnya.

“Papua dapat berkembang seperti saat ini karena peran Pemerintah Pusat dan Perusahaan-perusahaan yang menjadi asetnya, seharusnya kita sebagai orang Papua memanfaatkan itu sebagai sarana mengembangkan potensi SDM dan SDA sehingga dapat bersaing dengan daerah lain, bukan justru mengusir semua aset, jika semua kelaur dari Papua itu sama saja menjerumuskan Papua,” tegasnya.

Klemen Tinal juga meminta kepada warganya dimanapun berada untuk bersikap lebih dewasa dan legawa, berpikir lebih jernih, menimbang untung dan ruginya dari suatu polemik, dan jangan mudah terprovokasi isu negatif yang justru malah merugikan Papua dan membuat kita menyesal dikemudian hari. (**)

News Feed