oleh

Aksi Heroik Yason dan Titus saat kerusuhan Papua berbuah penghargaan

-Artikel-3.157 views

Kitorangpapuanews.com – Dua warga Papua, Pendeta Yason Yikwa dan Titus Kagoya menerima penghargaan Pelopor Perdamaian tahun 2019 dari Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita.

Penghargaan itu diberikan dalam acara perayaan ulang tahun Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan yang ke-10 (Dasawarsa) di Pelataran Candi Prambanan, Rabu (16/10/2019).

Keduanya menerima penghargaan karena menjadi tameng untuk menyelamatkan ratusan warga pendatang saat terjadi kerusuhan beberapa waktu lalu.

Tepuk tangan mengema di pelaran Candi Prambanan seiring Pendeta Yason Yikwa dan Titus Kagoya diminta untuk naik ke atas panggung.

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita berjalan ke atas panggung, menghampiri dan menyalami keduanya.

Agus Gumiwang Kartasasmita lantas menyerahkan penghargaan Pelopor Perdamaian kepada Pendeta Yason Yikwa dan Titus Kagoya.

Dalam sambutannya, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan cerita tentang Pendeta Yason Yikwa dan Titus Kagoya didapatnya saat berkunjung ke Wamena.

“Cerita tentang Pak Yason dan Pak Titus saya dengar ketika berkunjung ke Wamena seminggu lalu. Saya ingin sekali berkenalan dengan Pak Yason dan Pak Titus, yang menurut pandangan Saya sebagai pahlawan,” ujar Agus.

Menurut dia, apa yang telah dilakukan oleh Pendeta Yason Yikwa dan Titus Kagoya sangat heroik.

Pendeta Yason Yikwa dan Titus Kagoya menjadi tameng bagi 500 warga pendatang di wilayah Pikhe distrik Hubikiak Kabupaten Jayawijaya yang terjebak oleh massa perusuh serta mengamankan warga pendatang di kampung Mawampi.

“Begitu heroik apa yang dilakukan oleh Pak Yason dan Pak Titus, padahal jiwanya yang menjadi taruhan ketika mereka berdua pasang badan untuk saudara-saudaranya yang ada di Wamena,” katanya.

Yason Yikwa dan Titus Kogoya adalah simbol dalam membela kelompok minoritas. Putra asli Papua ini juga simbol perjuangan menjaga perdamaian.

Pendeta Yason Yikwa menceritakan saat terjadi kerusuhan pada Senin (23/09/2019)

Dia bersama umat mengevakuasi sekitar 500 warga pendatang. Ratusan warga pendatang ini dievakuasi ke dalam tiga ruangan yang ada di kompleks Gereja Baptis Panorama di Phike.

“Rumah dan ruko mereka dibakar, lalu saya bersama umat mengevakuasi mereka. Sekitar 500 orang lebih. Mereka kita tempatkan dalam Tiga bangunan, asrama panti asuhan putra dan putri, kemudian kantor yayasan,” ucapnya.

Pendeta Yason Yikwa menolong tanpa memandang suku, agama dan ras. Ia bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan sesama manusia.

“Ada yang datang mengejar, Saya mengatakan tidak boleh menyentuh apalagi menyakiti mereka. Lebih baik Kamu bunuh Saya dari pada menyakiti mereka,” ucapnya mengulang saat menghalau massa yang datang.

Mendengar apa yang disampaikan Pendeta Yason Yikwa, massa yang datang lantas meninggalkan lokasi. Ratusan warga pendatang pun berhasil selamat.

Pendeta Yason Yikwa mempersembahkan penghargaan yang diterimanya untuk semua masyarakat Papua.

Ia berharap tidak ada lagi kejadian serupa karena hanya menimbulkan penderitaan.

“Tidak ada lagi nama orang asli Papua dan orang pendatang mereka yang hidup di Papua itu orang Papua karena kitorang lahir di Indonesia,” urainya.

Sementara itu, Titus Kagoya menceritakan saat kejadian dirinya bersama para pemuda memutup akses jalan masuk ke Kampung Mawampi, Distrik Wesaput.

“Bersama para pemuda Saya menutup jalan masuk kampung, dengan menebang pohon. Kita robohkan di tengah jalan agar tidak ada orang luar yang bisa masuk,” ucapnya.

Titus Kagoya dibantu sang adik, lalu meminta warga pendatang untuk segera masuk dan mencari tempat persembunyian. Bahkan Titus menjadikan rumahnya menjadi tempat persembunyian bagi warga pendatang.

Ada sekitar 80 orang lanjutnya yang bersembunyi didalam rumahnya. Mereka ada yang dari Toraja, Madura, dan Jawa.

“Saya bersama pemuda berjaga diluar agar tidak ada yang masuk ke kampung,” tegasnya.

Pegawai Negeri Sipil Pemda Kabupaten Tolikara ini mengucapkan terimakasih atas penghargaan yang diberikan.

Ia berharap kerusuhan yang terjadi di Wamena tidak terulang kembali. Semua di papua ingin damai, baik warga lokal dan pendatang sama.

“Semua Kitorang Papua mereka dilahirkan dan dibesarkan di Papua dengan bingkai Indonesia, Kitorang saling rukun berdampingan dan menghargai,” katanya.

“Sebagian besar warga pendatang sudah seperti saudara sendiri, saat ada masyarakat lokal yang tertimpa musibah, mereka menyumbang sesuatu.”

News Feed