ADANYA TOKOH/AKTOR INTELEKTUAL DIBALIK AKSI 1 DESEMBER

oleh

Jayapura, Kitorang Papua – Siapakah dalang aksi 1 Desember yang membuat kegaduhan di Indonesia, khususnya di Papua?

Berbagai kejadian dan peristiwa terjadi pada 1 Desember. Salah satu diantaranya yang sangat menarik perhatian adalah aksi pembantaian di Nduga yang mengakibatkan korban puluhan orang. Semua aksi tersebut direncanakan secara sistematis.

Siapa dalang aktor itu, dibalik aksi yang sangat keji dan tidak manusiawi ini? Bagaimana mereka bisa mendapatkan banyak munisi untuk melakukan aksi brutal, siapa penyokong di balik itu semua?

Organisasi atau kelompok ini  mirip seperti organisasi teroris, yaitu terstruktur rapi, sistematis dan menggunakan pola-pola tertentu, seperti di bawah ini :

  • Adanya kelompok intelektual yang memaanfaatkan setiap aksi. Aktor atau kelompok intelektual merencanakan aksi, bentuk dan tempat terjadi.
  • Adanya kelompok yang mencari dana untuk operasional gerakan aksi, baik dari dalam maupun luar negeri.
  • Adanya kelompok yang bertugas mengamankan aksi tersebut melalui upaya dan bantuan hukum.
  • Adanya kelompok yang bertugas mencari dukungan keperluan aksi seperti bendera, spanduk, kaos, bahkan amunisi dan senjata.
  • Adanya kelompok propaganda yang melakukan publikasi baik pemutarbalikan fakta, menyebar hoaks dan membenarkan aksi.
  • Adanya kelompok aksi lapangan dengan melakukan kegiatan seperti demo dan penembakan sebagai aksinya. Seringkali pelaku (orang asli Papua) dan masyarakat sipil dikorbankan agar tujuan aksi ini tercapai.

Benang merah tersebut dapat dilihat dari beberapa kegagalan kelompok kriminal tersebut sehingga tertangkap aparat kepolisian.

Pada media news.okezone.com (baca: Penggerebekan Markas KNPB Timika Terkait Temuan 153 Amunisi di Bandara Mozes Kilangin) dikabarkan bahwa pada Senin (15/9) sekitar pukul 6.00 WIT dilakukan penggerebekan oleh petugas gabungan TNI-Polri tehadap markas Komite Nasional Papua Barat (KNPB).

Dari hasil penggeledahan aparat gabungan, ditemukan barang bukti senjata rakitan jenis revolver, 104 butir amunisi Kaliber 5.56, 11 butir amunisi revolver, satu butir amunisi 7.62 AK47, tujuh botol bom molotov rakitan, tiga lembar bendara Bintang Kejora, dokumen gerakan Papua merdeka, sejumlah alat tajam seperti parang, tombak, dan anak panah.

Penggeledahan tersebut merupakan pengembangan dari kasus tertangkapnya Ruben Wakla (pengurus aktif KNPB). Ia kedapatan membawa amunisi sebanyak 153 butir pada 10 September 2018 bertempat di Bandara Moses Kilangin, Timika.

Bahkan dijelaskan lebih lanjut pada media kumparan.com (baca: Polisi Tetapkan 2 Tersangka Kepemilikan Amunisi di Markas KNPB Timika) munisi tersebut akan disuplai kepada KKB daerah Yahukimo.

Pada media nasional nasional.tempo.co (baca: ICJR Sebut Salah Kaprah Jika Demo 1 Desember Papua Disebut Makar) kegiatan 1 Desember kemarin juga didukung oleh sejumlah LSM yang dikawal lengkap dengan bantuan hukum. Hal ini membuktikan adanya orang dan kelompok tertentu sebagai simpatisan dalam setiap aksi. Contoh lainnya ketika ada kasus penyanderaan tenaga medis dan pemerkosaan terhadap pengajar di Nduga, pada akhir April 2018, ada upaya oknum-oknum tertentu melindungi pelaku dan menyalahkan korban sehingga terjadi kejadian tersebut.

Bahkan ada media yang mengaburkan fakta dengan menyebutkan bahwa dalang pembantaian Nduga adalah TNI/Polri. Padahal faktanya aparat menjadi korban kekejian kelompok tersebut. Media terebut vokal mendukung separatis secara nyata dan terbuka.

Hal itu semua menunjukan bahwa, peringatan 1 Desember didalangi oleh aktor intelektual yang merencanakan secara sistematis. Semua hal dikeloka dengan baik, mulai dari adanya kelompok yang menggalang dana, kelompok yang melakukan upaya hukum (seperti LSM yang bermotif uang), kelompok yang menebar propaganda dan hoax secara terstruktur, kelompok yang mencari munisi (seperti KNPB), hingga kelompok yang melakukan aksi (seperti KKB Egianus Kogoya).

Organisasi ini mirip seperti organisasi teroris, yaitu adanya kelompok intelektual yang memaanfaatkan setiap aksi. Kelompok intelektual ini mengorbankan pelaku yang mayoritas Orang Asli Papua (OAP) dan masyarakat sipil tak berdosa. Tidak hanya korban kebrutalan yang menjadi korban. Pelaku aksi pun menjadi korban, contohnya seperti simpatisan KKB (mereka adalah OAP) yang mati ditembak oleh aparat karena melawan dengan senjata api. Bahkan pelaku aksi unjuk rasa anarkis pun menjadi korban (mereka mayoritas OAP) yang ditangkap dan diamankan aparat.

Damailah Papuaku dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Kitorang tidak mudah diadu domba. (*)