Ada Istana Damai Untuk Semua Agama Di Papua

oleh

Merauke – Pernahkah Anda mendengar ada daerah di Indonesia yang dijuluki sebagai Istana Damai? Julukan itu merujuk pada kabupaten di ujung timur Indonesia, di Papua, yakni Merauke.

Kawasan terdepan negara yang berbatasan dengan Papua Nugini ini punya masyarakat yang heterogen. Beragam etnis, suku, dan agama di Indonesia hidup di Bumi Animha ini, Bumi Manusia Sejati. Pendatang dari luar Papua berbaur dengan tuan rumah, masyarakat Malind Anim.

Memang secara etnis, penduduk merauke beragam. Para pendatang dari luar Papua banyak bermukim di Ibu Kota Kabupaten, mereka adalah masyarakat Jawa, Makassar, Bugis, Batak, hingga Ambon. Beragam profesi mereka lakoni, mulai dari pedagang pasar, nelayan, hingga pejabat pemerintahan, mulai dari pegawai perkebunan, pengusaha transportasi, hingga pebisnis kerajinan.

Keragaman etnis dan suku juga diikuti oleh keragaman agama. Soal kerukunan antarumat beragama, Merauke boleh dibilang berhasil. Tak terdengar cerita kelewat gaduh soal konflik antaragama di sini.

“Saat ini kondisi kerukunan antarumat beragama di Merauke masih sangat kondusif. Masyarakat Merauke memegang teguh prinsip untuk mewujudkan Merauke sebagai istana damai,” kata Direktur Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke, Pastor Anselmus Amo.

Semboyan ‘izakod bekai, izakod kai’ yang bermakna ‘satu hatti, satu tujuan’ juga bisa mempersatukan masyarakat Merauke. Semboyan itu tak berhenti pada kata-kata, namun juga mewujud pada komitmen yang dijaga bersama.

“Komitmen inilah yang menjadikan masyarakat Merauke tetap hidup tenang, damai, dan saling menghargai sampai saat ini. Bila ada orang yang terindikasi mengganggu ketertiban dan keharmonisan hidup bersama, pasti segera ditangani,” tutur Anselmus.

Sebenarnya, kata dia, kegiatan bersama antarumat beragama juga tak terlalu sering digelar. Namun kegiatan non-keagamaan justru yang bisa mempererat persatuan antarkelompok. Dengan cara itulah, kerukunan antaragama di Merauke menjadi terbentuk dengan sendirinya, alamiah.

Tempat ibadah di Merauke mudah dijumpai. Yang terkemuka, ada Gereja Katedral St Fransiskus Xaverius di Jl Raya Mandala, Kota Merauke. Ada pula Masjid Al Aqsha di kawasan ikonik dekat Tugu Lingkar Brawijaya (Libra) Merauke.

Di Masjid Al Aqsha, Wakil Ketua 1 Pengurus Kesejahteraan Masjid (PKM), Abu Bakar Akhyar, bercerita tentang kedamaian umat beragama di Merauke.

“Alhamdulillah, sejak saya di sini dari tahun 1994, saya melihat suasana kerukunan umat beragama di Merauke. Sangat aman dan tercpita suasana damai,” kata Akhyar.

Bupati Merauke Frederikus Gebze menyatakan masyarakat di wilayahnya memang sudah terbiasa dengan keberagaman.

“Merauke ini sudah heterogen, sudah majemuk. Kebhinnekaannya sudah cukup tinggi di Merauke. Jadi seluruh masyarakat Indonesia menjadikan Indonesia mini di wilayah Kabupaten Merauke,” kata Frederikus.

Semoga kerukunan yang tercipta di merauke dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Papua, untuk bersama-sama membangun Papua walaupun dengan latarbelakang agama, suku dan ras yang berbeda-beda. (Dees)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *