Hari Ini dalam Sejarah: Bencana Banjir Bandang Wasior, Papua Barat, 150 Orang Meninggal Dunia

oleh -17 views
Sebuah alat berat, Senin (11/10/2010), digunakan untuk menyingkirkan batu dan kayu yang menutupi jalan di Kampung Rado, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Akses di dalam kota dan ke luar kota tertimbun longsoran kayu, lumpur, dan batu akibat banjir bandang, 4 Oktober 2010.

Kitorangpapuanews.com.com – Hari ini 9 tahun lalu, tepatnya 4 Oktober 2010, mungkin tak akan pernah luput dalam ingatan warga Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Hari itu, 4 Oktober 2010 sekitar pukul 08.30, saat warga hendak memulai aktivitas, terdengar suara gemuruh bersama datangnya luapan air Sungai Batang Salai. Bagaikan tsunami, banjir bandang menyapu bersih rumah di wilayah itu dan menewaskan 150 orang. Sementara, 150 lainnya dinyatakan hilang. Harian Kompas, 6 Oktober 2010, memberitakan, hujan terus mengguyur desa Wasior sejak hari Minggu, 3 Oktober 2010, hingga Senin dini hari. Kondisi itu menyebabkan sungai yang berhulu di Pegunungan Wondiwoy itu meluap.

Rumah warga yang rata-rata semi permanen dari kayu hanyut dan runtuh akibat terjangan banjir.Hal inilah yang menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa. Asisten I Sekretaris Daerah Kabupaten Teluk Wondama menyebutkan, warga yang sudah ke luar rumah bergegas menyelamatkan diri ke perbukitan. Sedangkan warga yang masih tinggal di dalam rumah, sebagian besar tak bisa menyelamatkan diri. Pemberitaan Harian Kompas, 7 Oktober 2010, menuliskan, ribuan rumah rusak dan 8.000 warga mengungsi menuju Manokwari dengan kapal perintis. Sementara itu, 7.000 jiwa masih bertahan menunggu kabar keluarganya yang hilang.

Infrastruktur hancur Setitik cahaya lampu tak lagi terlihat di Wasior malam itu. Instalasi listrik rusak parah, aliran listrik dan jaringan komunikasi pun terputus. Di posko pengungsian hanya mengandalkan lampu minyak tanah seadanya. Jalanan tertimbun bebatuan dan lumpur setinggi orang dewasa, sehingga tak bisa dilewati kendaraan. Tak ada jalur darat untuk menuju Kabupaten Teluk Wondama dari Manokwari.

35 Orang Tewas Lapangan terbang yang digenangi oleh banjir juga memutus jalur udara menuju Wasior. Satu-satunya jalan menuju daerah itu adalah jalur laut yang harus ditempuh selama 10 jam perjalanan dari Manokwari dengan menumpang armada patroli Angkatan Laut atau kapal pengangkut kayu. Apa penyebab banjir bandang ini? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat itu, mengatakan, bencana banjir di Wasior karena curah hujan tinggi. Menurut dia, banjir ini bukan karena pembalakan liar, seperti dugaan yang sempat muncul. Dikutip dari Harian Kompas, 8 Oktober 2010, Juru Kampanye Air dan Pangan Eksekutif Nasional Walhi, M Islah, mengatakan, pembalakan hutan di Papua Barat dimulai sejak awal 1990-an.

Meski pembalakan sempat terhenti pasca pelanggaran berat HAM di Wasior pada 2001, pembalakan hutan kembali berlanjut. “Akumulasi kerusakan hutan itu yang menyebabkan banjir bandang,” kata Islah. Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Datang dari Divisi 2, Ravanelli Ciptakan Rekor di Juventus Sementara itu, Ketua Institus Hijau Indonesia (IHI) Chalid Muhammad menyebutkan, perusakan itu terjadi secara legal. Hal itu disebabkan oleh penerbitan izin pemanfaatan kayu (IPK).

“Pada 2009, pemerintah menerbitkan IPK di Papua Barat seluas 3,5 juta ha, termasuk izin menebang 196.000 ha di Kabupaten Teluk Wondama,” kata Chalid, seperti diberitakan Kompas.com. Berdasarkan penlitian IHI dan Yappika pada awal 2010, deforestasi hutan di Papua Barat pada 2005-2009 mencapai 1 juta hektar atau berkisar 250.000 hektar per tahun. Selain itu, 6,6 juta hektar hutan primer dan sekunder Papua Barat terkepung Hak Pengusahaan Hutan (HPH), tambang, dan perkebunan. Seperti diberitakan Harian Kompas, 14 Oktober 2019, Peneliti Bidang Ekologi Manusia Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Fadjri Alihar mengatakan, pemerintah terkesan tidak mau disalahkan atas kejadian ini. Baca tentang