oleh

1 Desember, ULMWP Ajak Bangsa Papua Ibadah Pemulihan Bersama

Kitorangpapuanews.com – JAYAPURA – Peringati hari manifesto Politik West Papua yang ke 58 tahun ini, United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) bersama umat Tuhan rakyat Papua Barat akan gelar ibadah pemulihan bersama.

Direktur Eksekutif ULMWP di West Papua Markus Haluk  mengatakan, peringatan manifesto Politik West Papua yang ke 58 tahun ini, ULMWP serukan kepada seluruh rakyat West Papua serta solidaritas di mana pun berada memperingati deklarasi manifesto politik West Papua 1 Desember 1961 deklarasi ini di akui secara de facto dan de jure.

“HUT untuk tahun ini, kami ULMWP nyatakan sebagai “Doa Pemulihan” – bagi bangsa Melanesia di West Papua, terutama atas meninggalnya korban sepanjang tahun 2019, dan ibadah ini bertepatan dengan hari minggu maka kami akan beribadah seperti biasanya,” katanya di  Jayapura, Selasa, (26/11).

Kata Haluk dalam tahun 2019, kurang lebih 200 orang Papua telah terbunuh dalam operasi militer Indonesia di Nduga. Sementara 40 orang lebih (orang Papua maupun non-Papua) telah meninggal dunia selama peristiwa perlawanan rasisme maka masyarakat Papua harus berdoa.

  ” Juga harus mendoakan para tahanan politik yang sedang menjalani proses hukuman dalam penjara. Tak lupa doa bagi para mahasiswa Papua hampir di seluruh Indonesia, dengan terpaksa mereka telah meninggalkan kuliahnya, dan juga para siswa-siswi Sekolah Menengah Atas di Wamena yang masih mengalami teror dan intimidasi,” katanya.

Dikatakan, untuk itu ULMWP serukan kepada seluruh bangsa Papua mulai dari Sorong hingga di ujung Samarai dan serta seluruh pelosok negeri untuk dapat berpartisipasi dalam peringatan 1 Desember 2019 ini sebagai hari “Doa Pemulihan” dengan menggelar ibadah atas situasi bangsa Melanesia di West Papua.

“Kami juga menghimbau kepada seluruh denominasi agama di Papua maupun solidaritas dimana pun berada, bahwa tahun 2019 ini – 1 Desember jatuh tepat pada hari Minggu, sehingga dalam kesempatan ini pula kami United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) serukan untuk bersama-sama kita memperingati HUT lahirnya embrio Negara West Papua ke-58 tahun sebagai hari “pemulihan,” doa bagi mereka yang telah kehilangan nyawanya dalam 12 bulan,” katanya.

Lajud haluk  memaparkan bahwa sejarah 58 tahun lalu, tepat 1 Desember 1961 telah dibuktikan dimana Dewan Papua pertama yang disebut saat itu Nieuw Guinea Raad, pertama kalinya mendeklarasikan wajah negara West Papua sebagai salah satu bangsa yang siap berdaulat sebagai Negara seperti bangsa lain di dunia.

Deklarasi ini dilakukan dengan upacara mengibarkan bendera Bintang Fajar pertama kalinya – dikibarkan bersamaan dengan bendera Belanda.

“Pengibaran itu kemudian di iringi pula nyanyian lagu kebangsaan, “Hai Tanahku Papua” dinyanyikan setelah lagu kebangsaan Belanda “Wilhelmus. Meski usia deklarasi 1 Desember itu tak bertahanan lama dimana 19 Desember 1961 (19 hari) Indonesia menganeksasi West Papua melalui deklarasi Operasi Militer Trikora (Tiga Komando Rakyat) oleh Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno yang menyerukan untuk menggagalkan cita-cita bangsa Papua dengan menyebutnya sebagai negara “boneka” Papua buatan Belanda,” katanya.

Dikatakan, sejarah peristiwa tahun 1961 menjadi awal sejarah hitam bagi kami West Papua, hingga sekarang masuk 2019.

“Bagi kami bangsa Papua, Deklarasi manifesto politik Papua 1 Desember 1961 merupakan tonggak penting dalam proses penentuan nasib sendiri West Papua, yang dimulai secara resmi ketika Belanda hendak mendaftarkan West Papua ke PBB sebagai Wilayah Tak Berpemerintahan Sendiri (non self governing territory),” paparnya

Jadi, sejak itu  hingga masuk pada tahapan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera 1969), Indonesia telah mencoba untuk memecah belah kita bangsa Papua dan membuat kita untuk saling berhadapan –  tetapi tidak! Kami tidak akan dipecah-belah.

“Kita akan tetap kuat dalam satu-kesatuan, di bawah satu bendera kita Bintang Fajar untuk satu takdir Kemerdekaan. Selama lebih dari 50 tahun (setengah abat) ini, pemerintah kolonial Indonesia telah berupaya untuk membuat kami diam (bungkam total), tetapi kami tidak akan takut, sebab hari ini suara kami mulai didengar oleh para pemimpin dan rakyat di Regional Melanesia, Pacifik dan Dunia Internasional,” katanya.

Menuju 2020, pihaknya akan terus bekerja keras bersama semua komponen rakyat bangsa Papua dan berbagai kalangan untuk mewujudkan aspirasi kolektif dan agenda rakyat West Papua.

“Kami akan memperjuangkan terwujudnya Hak Penentuan Nasib Sendiri melalui Referendum bagi kemerdekaan dan kedaulatan Politik Bangsa Papua. Dengan demikian, pada hari Minggu 1 Desember 2019 dalam moment doa pemulihan, kami himbau kepada seluruh lapisan bangsa Papua, untuk kita bersama-sama  memperingati secara terbuka maupun tertutup sesuai situasi di wilayah masing-masing dengan damai seperti ibadah minggu biasanya,” paparnya.

Ia berharap dengan hati yang dalam  mari kita sama – sama, bangkit dan tetap bersatu nyatakan diri sebagai Satu bangsa – Satu jiwa dalam komando United Libertion Movement for West Papua demi Kemerdekaan dan Kedaulatan Politik West Papua One People One Soul,” tutupnya di akhir pembicaraan.

Sementara itu, Ketua Komite Legislatif Edisonk Waromi SH juga menambahkan bahwa, keapda masyatakat papua di lembah gunung bukit pesiair kami menyatakan bahwa rakyat Papua menyadari peristiwa 58 Tahun silam ini tidak boleh di lupakan.

” ini merupakan tonggak sejarah Papua bafat dimama  bangsa Papau harus di merdekakam pada 1962 yang suda tertunda 58 Tahun, maka kami mau sampaikan sejarah hitam ini jangan dilupakan bangasa Papua, baik yang berada di status mana pun sekalipun yang ada dalam sistem NKRI, kita perlu melawan lupa, agar tidak melupakan sejarah masa lalu di mana bangsa Papua Barat telah diakui sebagai sebuah bangsa yang disiapkan menjadi sebuah negara,

Hal peristiwa ini juga merupakan dampak dari terjadinya perang Dunia ke-2 antara Amerika dan Uni Soviet.

“Ibarat gajah berkelahi rumput terinjak, artinya kepentingan dua gajah yaitu Amerika dan Uni Soviet sehingga Papua Terinjak seperti rumput maka, orang Papua juga menjadi  korban dari perang dunia itu sendiri, maka kita perlu  melakukan doa restorasi dan mengakui dosa –  dosa bangsa, nenek moyang yang di lakukan Pada masa itu dan masih subur hingga saat ini Mari kita akui dan meminta ampun, dan kita minta restorasi supayah dosa bangsa  ini bisa ada pemulihan,” paparnya, (oel)

News Feed